Friday, June 17, 2016

A happy anxious life!

the title said it all!

I got pregnant!!! This surprised me and my husband! 

Pertama karena aku ada rutin bulanan untuk laser hair removal, jadi bulan ini aku coba untuk testpack! Karena untuk pastiin aku ga hamil pas lagi laser. Yes it's my first test pack setelah lahiran tahun lalu.

Minggu pagi, saya bangun dan langsung ke kamar mandi untuk testpack. Suami saya belum bangun waktu itu. 
"OMG! There is two line" kata saya dalam hati. Tapi kok satu lagi samar sekali ya? Masih ga percaya dan pengen coba testpack lagi besok. Waktu itu saya belum memberitahu suami saya. Memang rencana saya sebenarnya untuk hamil dekat-dekat ulang tahun suami saya (July boy) ! Jadi pengennya berita hamil saya jadi kado dia. Haha sinetron banget ya. 

Keesokan harinya, test pack, dan garis nya terlihat lebih jelas dari kemarin. Dan saya bukannya mengabarkan ke keluarga saya. Saya malah langsung Line ke dua teman baik saya. 
"Kayaknya gw hamil" 
Dan they were so surprise. Or not so surprise? Hahaha 
Jujur pertama liat hasil, saya ga ngerti apa perasaan saya. Happy? Yes. Tapi kebahagian itu langsung diikuti perasaan takut. 
"Apa bakal terulang lagi kayak kemarin?" 
"Apa anak saya bakal sehat?" 
"Apa dia akan berkembang?" 

Terlalu banyak kata "apa?" waktu itu. 
Happy yet anxious. 

Malam itu tiba-tiba saya berasa ingin muntah. 
Dan suami saya tanya "kamu ada testpack?" 
Haha gagal sudah mau bikin cute surprise. Malah saya yang di surprise in. 
Dan waktu tau saya positif. Dia salamin saya bilang "selamat ya"
Dalam hati, kok ga kayak di film drama gitu sih reaksi nya? 

Dua hari berselang, saya mulai panik.
Bisa jadi dia ga berkembang? 
Mulai baca-baca tentang blighted ovum,cerita-cerita tentang keguguran dll. 
saya seperti stress sendiri. 
Awal nya saya belum berencana buat ngecek ke dokter kandungan. Akhirnya saya whatsapp suami saya dan bilang, "malam kita ke dokter ya" 
I know it will be too early, karena jadwal mens ku saja sebenarnya masih belum waktunya. Jadi di USG juga ga akan keliatan apa-apa. 

Saya akhirnya kembali ke dokter Tjien Ronny. 
Waktu menunggu 1 jam terasa lama sekali. Saya takut saya akan pulang dengan kecewa. Gimana kalau dokter bilang saya ga hamil? Gimana kalau ternyata ada apa-apa? 
Seperti trauma waktu dulu ke dokter berakhir dengan diagnosa-diagnosa yang tidak ingin saya inginkan.

Di titik itu saya merasa, what is happiness? Mungkin saatnya saya untuk kembali berserah kepadaNya. Yang terjadi biarlah terjadi. 

Bertemu dengan dokter.... 

Dr Tjien langsung menyambut saya, "kamu hamil fan?" 

Oh, he remembers me! 
Yuk langsung dilihat. Dan dia langsung USG dan dalam hitungan detik langsung ketemu kantungnya. 

Tidak seperti waktu USG Valleria pertama kali. Waktu itu saya sudah telat menstruasi seminggu. Dan dokter Tjien susah menemukan kantung nya. Dia sempat bilang, "mungkin memang kamu suka telat." Walaupun pada akhirnya ketemu juga. 

Hope this will be a good sign! 

Setelah itu kami sempat mengobrol, saya sempat curhat kekhawatiran saya. 
Dia cuma menjawab, "ga akan ada habisnya kalau kita cuma mikir yang jelek-jelek. Berpikir semua bagus. Capek kalau mikir yang jelek." 

Terakhir sebelum keluar ruangan, dia kembali bersalaman dan bilang "selamat ya kamu hamil" I don't know itu hanya perasaanku saja but I can see his happiness! 
Such a lovely doctor. 


Saya tau ketakutan saya tidak ada gunanya. Karena semua itu bukan sesuatu yang bisa saya kontrol. Semua itu kehendak Tuhan. 
Saya tau statistik mengatakam chance saya untuk bayi trisomy hanya dibawah 0.5%. Sama seperti ibu-ibu lain yang sedang hamil. 

Saya mulai takut untuk bercerita, karena setiap bercerita selalu response dari orang. Ah kamu kebanyakan pikiran. Ga harusnya dipikirin itu. Berpikir positif nanti dapatnya bagus-bagus. Kalao berpikir yang jelek-jelek nanti dapat nya juga jelek. Saya tau semua itu, it's easier to say. 

Saya mencoba menenangkan diri, me'waras'kan diri sendiri. Saya membaca cerita-cerita inspirasi dari orang-orang. Saya yoga. Saya meditasi. Saya berdoa. I am trying to find my inner peace and happiness. Not my relative happiness.

I know it won't be easy. But it will be worth to try. 


I am just thinking, if something went wrong this time, what should I do? Will I be that 'strong' like before? 

What if I fall? Oh my darling, what if you fly? 

Friday, June 3, 2016

Which side are you?

Minggu ini, tiba-tiba saya merasa kenapa kita ga selalu berpikir positif? Kenapa kita suka fokus ke hal negatif, mengeluh tentang hal-hal kecil. Ketika sesuatu tidak sesuai harapan kita, seakan-akan itu dunia runtuh (lebay, yes it is)
Jadi hal pertama yang saya lakukan, saya melihat sekitar saya.

Kebetulan 2 hari ini saya lagi sakit. Jadi waktu saya kebanyakan di rumah beristirahat. Dan kalau ga ada kerjaan ya apalagi kalau bukan social media.

Kemarin sekitar Jakarta Barat dan Utara, mati lampu. Waktu itu saya sendirian di rumah, dan mati lampu selama 3 jam! Mungkin kalau saya dulu, saya pasti sudah berkeluh-kesah karena listrik padam! Tapi anehnya, saat itu saya tiba-tiba merasa, kenapa kita suka mengeluh hal-hal kecil? Kenapa kita tidak melihat sisi positif nya? Mugkin sebenarnya banyak loh teman-teman kita di daerah lain yang belum merasakan nikmatnya punya listrik. Saat pemadaman listrik selama 3 jam ini. Saya bermain dengan Martin, anjing saya. Ya karena memang tidak ada yang bisa saya lakukan dan semuanya gelap. Tiba-tiba saya merasa, selama ini I take my dog for granted (sorry martin). Weekdays kami berkerja, pulang kerja kami lalu langsung istirahat, makan malam, dan menonton tv sambil dengan gadget masing-masing. Saya jadi jarang bermain dengan dia. Padahal dia selalu duduk di samping saya.
Sedangkan weekend? Kebanyakan kami menghabiskan waktu di luar rumah.
Saya jadi menyadari ternyata ketika kita berteman/follow seseorang. Kita akan secara ga langsung terkena dampak yang mereka berikan. Kalao teman kita/following kita orang-orang positif. Otomatis kita akan ikut terbawa ke hal-hal positif. Seperti contoh, waktu kemarin sehabis melahirkan. Saya mulai follow semua yang berhubungan dengan olahraga; workout; diet; healthy food; dsb di instagram. Dan setiap harinya saya jadi semakin termotivasi dan semangat untuk hidup lebih sehat (dan ingin kurus tentunya). Dan ketika saya mulai untuk hidup sehat, suami saya juga jadi ikut. Dia yang pertama kali membuatkan saya overnight oat, smoothies bowl, dll untuk sarapan (sebelumnya biasanya kita sarapan bakmi, hehehe)
TIPS buat yang lagi diet, follow semua account diet, kesehatan, olah raga, dan foto before after untuk perbandingan kita (kita jangan membandingkan kita dengan orang yang di foto tersebut. Tapi bandingkan dengan diri kita yang dulu dan yang sekarang.) Itu bener-bener membuat semangat berapi-api. haha. That works for me.

Sebaliknya, ketika kita dikelilingi orang-orang yang suka mengeluh, kita jadi terkena aura negatif mereka. Misalnya ketika seseorang membenci temannya dan terus mengeluh tentang temannya di depan kita. Lama-lama kita akan merasakan aura negatif dia. Kita jadi ikut sebel, bete.


Ketika kita mengeluh, sebenarnya banyak orang yang tidak "seberuntung" kita. Tidak sedikit yang sangat ingin di posisi kita.
Saat kita mengeluh pekerjaan kita, banyak orang diluar sana yang pekerjaan nya tidak sebaik kita. Seperti PRT, buruh, mereka butuh waktu kerja lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Ketika kita mengeluh susahnya mengurus anak, banyak orang lain yang sangat menginginkan kehadiran malaikat kecilnya.
Ketika kita mengeluh susahnya hamil, banyak wanita yang ingin hamil.

Ketika saya diberikan cobaan tahun lalu, waktu itu mungkin saya masih merasa kenapa saya? Banyak orang diluar sana yang hamil padahal tidak menginginkan anak di dalam kandungan mereka. Kenapa tidak mereka saja yang diberikan cobaan ini? Toh mereka juga tidak ingin anak itu.

Tapi sesaat setelah kejadian, saya tidak mau terus-terusan berpikiran negatif. Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik. Saya diberikan kesempatan untuk "berduaan" dengan suami. Saya lebih didekatkan dengan suami. Kami jadi lebih mengerti satu sama lain. Kami dibukakan matanya untuk lebih mengenal orang-orang baik di sekitar itu ternyata banyak loh. Orang-orang yang perduli dengan kita. Terus kenapa kita harus fokus pada aura negatif?

 Jadi pasti sebenarnya di setiap kejadian selalu ada hal positif dan negatif. Tergantung kita mau fokus di hal yang mana. Setiap orang pasti punya masalah. Yang membedakan adalah, reaksi kita terhadap masalah itu.
Kamu ga bisa milih apa yang bakal terjadi di hidup kamu. Tapi kamu bisa memilih apa reaksi kamu. The problem itself is not a problem. But your reaction is.

Jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita seharusnya membandingkan diri kita yang sekarang dengan diri kita sebelumnya.

And take nothing for granted!

"Admire someone else beauty without Questioning your own."